Latar Belakang Rasulullah SAW berpoligami

Pendahuluan

Poligami merupakan nizham (peraturan/syariat) Islam yang semenjak dulu menjadi sasaran kaum orientalis atau kaum kuffar lainnya.

Bahkan semenjak zaman Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam, kaum kafir Yahudi sudah mulai mencela dan menghujat Nabi dan syariat Poligami ini.

Diriwayatkan oleh ‟Umar Maula (mantan budak) Ghufroh [dia berkata] :

”Orang Yahudi berkata ketika melihat Rasulullah menikahi wanita : Lihatlah orang yang tidak pernah kenyang dari makan ini, dan demi Alloh, ia tidaklah punya hasrat melainkan kepada para wanita.” [Thobaqot al-Kubra karya Ibnu Sa’ad, juz VIII hal. 233, melalui perantaraan Hamdi Syafiq, Zaujaat Laa Asyiiqoot at-Ta’addudi asy-Syar’i Dhorurotul Ashri].

Mereka -kaum Yahudi- mendengki kepada Rasulullah dan ketika mereka melihat Rasulullah berpoligami maka mereka jadikan hal ini sebagai sarana untuk menjatuhkan dan merendahkan beliau ’alaihi Sholatu wa Salam. Mereka menyebarkan kedustaan dengan berkata : ”Kalau seandainya Muhammad itu benar-benar seorang Nabi, niscaya ia tidak akan begitu berhasrat kepada wanita.” [ibid].

Padahal apabila ada yang mencela Poligami, berarti menghina syariat Islam dan pada hakikatnya menghina Pembuat Syariat, Allah Subhanahu Wa Ta’Ala. Sebagaimana Firman-Nya :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

”Apabila kamu takut tidak dapat berbuat adil terhadap anak yatim (yang hendak kamu nikahi), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS An-Nisaa`: 3)

Adapun Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam beristri 9 karena Beliau berbeda dengan manusia lainnya, Beliau memiliki keistimewaan salah satunya di-ma’shum, terpelihara dari dosa dan kesalahan (selain di-ma’syum, Beliau juga Al-Amin=terpercaya dan banyak lagi, seperti keluarga Beliau juga tidak boleh menerima zakat)

Tentu Poligami berdasarkan syariat Islam yang sesungguhnya, amatlah sangat berat bagi manusia biasa. Oleh karena itu, saya (penulis) secara pribadi InsyaAllah tidak berpoligami.

 

Fenomena Poligami di Masyarakat

Penyebab dan syariat Poligami yang dipraktekan masyarakat cukuplah beragam, mulai dari yang buruk hingga yang baik.

Misalnya, untuk yang buruk :

  • “Mensyahkan” perselingkuhan (bisa berupa penyelewengan kawin sirih) setelah rahasia perselingkuhannya terbongkar
  • Tergiur wanita yang lebih cantik atau lebih ‘OK’ dari istri pertama
  • Dan lain-lain

Sedangkan untuk yang baik :

  • Istri pertama tidak dapat mendapat keturunan, lalu istri pertama mendorong suaminya berpoligami
  • Hendak menolong seorang janda yang tidak dapat memikul beban keluarganya sedangkan istrinya sendiri ikhlas
  • Dan lain-lain

Sayangnya, karena umat muslim di Indonesia adalah mayoritas, kisah Poligami yang buruk seringkali digeneralisir sebagai citra buruk Islam, sebagaimana kasus lainnya seperti pertengkaran pada sidang isbath penentuan jatuhnya bulan Ramadhan dan hari Idul Fitri, terorisme yang membuta dan lain-lain.

Namun apabila kita memandang secara obyektif, masyarakat

Lalu yang bagaimanakah Poligami yang sesuai dengan syariat Islam?

Apakah Poligami yang dijalankan sebagian besar kaum muslim sudah sesuai dengan syariat Islam?

 

Hukum Poligami

Ada beberapa pandangan yang salah terhadap Poligami ini, misalnya karena Seorang Nabi adalah suri tauladan maka mutlak (secara membuta)harus diikuti Poligaminya. Karena Poligami itu bukanlah Sunnah (harus diikuti) melainkan Jaiz (Boleh), sudah tentu dengan ketentuan-ketentuan.

Menurut sebagian fuqoha’ (ahli fikih), Hukum poligami itu sama dengan hukum pernikahan, yang kembalinya kepada 5 kategori hukum :

  1. Fardh/Wajib, apabila poligami tidak dilaksanakan, suami akan jatuh kepada keharaman, seperti perbuatan zina, selingkuh dan perbuatan asusila lainnya.
  2. Mustahab/sunnah, apabila suami mampu dan memiliki harta yang cukup untuk melakukan poligami, dan dia melihat ada beberapa wanita muslimah (janda misalnya) yang sangat perlu dinikahi untuk diberikan pertolongan padanya.
  3. Mubah/boleh, apabila suami berkeinginan untuk melakukan poligami dan ia cukup mampu untuk melakukannya.
  4. Makruh, apabila suami berkeinginan untuk melakukan poligami sedangkan ia belum memiliki kemampuan yang cukup sehingga akan kesulitan di dalam berlaku adil.
  5. Haram, apabila poligami dilakukan atas dasar niat yang buruk, seperti untuk menyakiti istri pertama dan tidak menafkahinya, atau ingin mengambil harta wanita yang akan dipoligaminya, atau tujuan-tujuan buruk lainnya.

 

Syariat yang dicontohkan Rasulullah SAW

Kaum kuffar orientalis, kalangan liberalis, sosialis, feminis  dsb seringkali mencela Beliau dengan celaan yang jelek dan buruk. Mereke mencela Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa Salam sebagai manusia biasa yang bersyahwat besar –ma’adzallah-. Semua itu berangkat dari hasutan, dendam, kedengkian dan kebodohan mereka terhadap figur yang mulia dan sejarah beliau

Bagi siapa yang menelaah sejarah dan perikehidupan beliau, niscaya akan mendapatkah bahwa apa yang beliau lakukan adalah sama sekali jauh dari tuduhan kaum kuffar yang dengki itu.

Mari kita lihat, sejarah pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Pernikahan pertama – Khadijah binti Khuwailid

Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha adalah seorang janda Abu Hala Hind bin Nabbasy at-Tamimi, lalu ketika Abu Hala meninggal, Sayyidah Khadijah menikah dengan`Atiq bin `Abid al-Makhzumi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menikahi Beliau pada usia 25 tahun sedangkan Sayyidah Khadijah berusia 40 tahun setelah menjanda dua kali.

Pernikahan pertama dengan Sayyidah Khadijah berlangsung hinggal tahun sepuluh kenabian atau tiga tahun menjelang hijrah.

Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah seorang manusia yang bersyahwat besar, tentu tidak akan menikahi seorang wanita yang sudah dua kali janda dan sudah berumur. Padahal Beliau adalah pemuda yang jujur, amanah dan selalu menjaga diri beliau dari keburukan sedangkan pada saat itu kaumnya telah terbiasa dengan pernikahan poligami tanpa batas dan menikahi wanita pada usia muda (bahkan sebelum baligh)

Pernikahan kedua – Saudah binti Zam’ah

Sepeninggalan Khadijah radhiyallahu ‘anha , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditawari oleh Khaulah binti Hakim untuk menikahi salah satu dari seorang wanita, yaitu satu perawan (Aisyah) dan satu lagi janda (Saudah).

Subhanallah! Beliau memilih menikahi Saudah binti Zam’ah radhiyallahuanha, seorang janda dari Kasron bin `Amru bin `Abdi asy-Syams yang merupakan sepupunya sendiri.

Sayyidah Saudah ini berbadan gemuk dan berkulit hitam –Allohumma, kami tidak bermaksud sedikitpun mencela penampilan fisik Sayyidah Saudah, dimana beliau adalah diantara wanita terbaik dan ahli surga, ibu kami kaum mukminin-. Rasulullah mau menikahi Sayyidah Saudah yang jauh lebih tua dan seorang janda yang memiliki banyak anak.

Apabila Rasulullah menikahi hanya untuk mengumbar syahwat, niscaya Beliau tidak akan memilih Sayyidah Saudah.

Pernikahan ketiga – Aisyah binti Abu Bakar

Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar adalah pinangan Rasulullah yang kemudian dinikahi. Pinangan Rasulullah atas Aisyah ini telah menyelamatkan Abu Bakar dari dilema antara menikahkan putrinya dengan seorang kafir atau mengingkari janjinya kepada Muth’im bin `Adi, orang tua dari pemuda kafir tersebut yang telah dijanjikan untuk menikahi putrinya.

Masya Allah, yang terjadi adalah Mut’im bin `Adi tidak menghendaki anaknya menikahi Aisyah karena tidak mengingingkan anaknya masuk agama yang dibawa Nabi. Maka pinangan Rasulullah pun diterima.

Hal tersebut terjadi pada tahun –sepuluh kenabian-, namun baru berkumpul (menikah) pada saat di Madinah tiga tahun kemudian. Sejarah mencatat perbedaan pendapat tahun berapa Sayyidah `Aisyah dinikahi dan digauli, mulai dari usia 9-15 tahun.

Namun berikut beberapa hal yang perlu dicatat, Pernikahan dini usia muda `Aisyah ini bukan karena pedofili atau kelainan seks –ma’adzalloh- :

  • Pernikahan dengan wanita pada usia muda adalah kultur adat dan budaya setempat saat itu
  • Kaum Quraisy telah terbiasa menikahkan puteri mereka yang berusia belia, terutama kepada orang yang mereka hormati
  • Sayyidah `Aisyah baru dinikahi ketika sudah baligh ( sudah menstruasi)
  • Sayyidah `Aisyah dan keluarganya sama sekali ikhlas tanpa paksaan

Sensitifitas modern kadang merasa risih dengan hal ini, tapi hal ini terjadi pada komunitas yang memandang usia 9-15 tahun adalah usia terendah bagi seorang anak perempuan untuk dikawini, itupun 14 abad yang lalu, meskipun hingga kini masih ada komunitas masih memberlakukan adat pernikahan dini.

Namun pada kenyataannya pernikahan dini (setelah baligh, tanpa paksaan) jauh lebih baik daripada budaya modern hasil westernisasi, yang merebak sebagai tren pergaulan bebas, meski pada kenyataannya menikah pada usia 28 ke atas, namun sudah tidak perawan karena perzinaan.

Alhasil perzinaan dibawa hingga masa perkawinan, maka akibatnya penyelewengan suami/istri adalah hal biasa, dan ajaran Yesus yang tidak mengizinkan perceraian menjadi lelucon belaka. [Irene Handono, Menjawab Buku “The Islamic Invasion”]

Pernikahan keempat – Hafshah binti `Umar bin Khaththab

Sayyidah Hafshah binti `Umar bin Khaththab adalah janda dari Khunais bin Hudzafah as-Sahmi yang masuk Islam dan berhijrak ke Madinah dan syahid di Perang Uhud.

Setelah selesai masa ‘iddah-nya,`Umar bin Khattab menawarkan puterinya kepada sahabat agung Abu Bakar, namun Abu Bakar diam tidak meresponya, sehingga marahlah `Umar. Lalu Beliau menawarkan puterinya kepada sahabat agung `Utsman bin `Affan, namun `Utsman bin `Affan tidak setuju, sehingga murkalah `Umar.

Melihat hal ini, Abu Bakar mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sendirilah yang menikahinya sebagai penghormatan kepada sahabat agung `Umar bin Khattab.

Demikianlah pernikahan Nabi dengan para istri sahabat sepeninggalah para suaminya yang syahid sebagai tanggung jawab untuk menafkahi keluarga-keluarganya. Beliau tidaklah menikahi puteri-puteri sahabatnya melainkan sebagai penghormatan dan pemuliaan terhadap mereka (Abu Bakar dan `Umar bin Khaththab). Siapa gerangan yang tidak menginginkan puterinya dinihaki oleh manusia terbaik dan teragung sepanjang masa? Siapakah gerangan yang tidak ingin dinikahi oleh manusia terbaik dan teragung sepanjang zaman?

Pernikahan kelima – Zainab binti Khuzaimah

Sayyidah Zainab binti Khuzaimah yang digelari Ummu Masakin (Ibunya kaum miskin) radhiyallahu`anhu adalah janda dari Thufail bin al-Harits bin `Abdul Muthalib yang menceraikannya, lalu dinikahi sepupu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, `Ubaidah bin al-Harits yang juga saudara mantan suaminya, dan beliau syahid pada perang Badar meninggalkan seorang istri yang menjadi janda tidak ada lagi yang melindunginya. Namun karena faktor umur, Sayyidah Zainab pun meninggal beberapa bulan setelah pernikahannya.

Allahu Akbar, apahah menjaga dan menikahi janda sahabat ( yang juga sepupu Nabi) yang syahid merupakan bentuk kelainan seksual dan gila wanita??

Apahak suatu bentuk mengikat jalinan silaturahmi dengan pernikahan yang halal kepada keluarga sahabat yang syahid dengan memberikan hak-hak pemeliharaan dan perlindungan atasnya adalah suatu keburukan??

Pernikahan keenam – Ummu Salamah

Nama asli beliau adalah Hindun binti Suhail bin Al-Mughiroh, beliau adalah seorang janda dari Abu Salamah `Abdullah bin `Abdul Asan al-Makhzumi radhiyallahu `anhu yang syahid dalam Perang Sariyah Qothn setelah beliau terluka parah dalam perang Uhud.

Salamah radhiyallahu `anhu meninggalkan istri dan anak yang banyak. Setelah masa `iddah berlalu, Sayyidah Ummu Salamah radhiyallahu `anhu dipinang oleh Abu Bakar dan `Umar namun lamaran keduanya ditolak, demikian pula ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam meminangnya, Beliau juga menolak.

Alasan penolakan beliau adalah karena beliau adalah wanita yang sudah tua, banyak anak dan pencemburu. Mendengan ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun menjawab :

أما ما ذكست من غ سٍتك ف رٍهبها الله .. وأما ما ذكست من سنك فأنا أكبس منك سنا … وأما ما ذكست من
أ تٌامك فعهى الله وعهى زسىنه

“Adapun mengenai sifat pencemburumu semoga Alloh menghilangkannya, mengenai umurmu yang sudah tua maka aku sendiri lebih tua darimua, dan adapun mengenai anak-anakmu yang yatim maka itu tanggungan Alloh dan Rasul-Nya.” [Lihat Sunan an-Nasa`i, Kitabun Nikah, Juz VI hal 81; melalui Zaujaat La ‘Asyiqot, op.cit.].

Pernikahan ketujuh – Ummu Habibah Romlah bintu Abu Sufyan bin Harb

Ummu Habibah adalah istri `Ubaidullah bin Jahsyi bin Khuzaimah yang turut berhijrah dengan istrinya ke Habasyah (Abesinia) pada hijrah kedua.

Namun terjadi fitnah dimana `Ubaidullah suami Ummu Habibah murtad keluar dari Islam –wal’iyadzubillah- sedangkan Ummu Habibah tetap kokoh di atas keislamannya.

Beliau (Ummu Habibah) tidak dapat kembali ke Mekkah dikarenakan ayahanda beliau, Abu Sufyan adalah termasuk pembesar Quraisy yang senantiasa mencederai Nabi dan para sahabat Beliau.

Seandainya Ummu Habibah kembali ke Mekkah, akan membahayakan keadaannya. Oleh karena itu haruslah memuliakan dan membebaskan Ummu Habibah dari suaminya yang telah murtad kemudian mati di Habasyah

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengirim surat kepada Najasyi (Negus) Raja Habasyah yang telah masuk Islam, memintanya untuk menjaga Ummu Habibah. Setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam hijrah ke Madinah, Najasyi dengan penuh penghormatan mengiririmkan Ummu Habibah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu dinikahi.

Ketika Abu Sufyan mendengar bahwa puterinya dinikahi oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam, begitu riang dan gembiranya dirinya dan mengakui bahwa Muhammad adalah menantu terbaiknya yang pernah ia miliki, walaupun ia memusuhi Muhammad dan agamanya… [Thobaqot Ibnu Sa’d, juz VIII, hal. 109 dst.; melalui Zaujaat Laa ‘Ayisqoot, op.cit.].

Wahai kaum yang berakal, apahak menyelamatkan seorang wanita yang tengan bertahan, mempertahankan aqidahnya dengan menikahinya, menjaganya dan melindunginya dari suaminya yang murtad dan bapaknya yang musyrik merupakan tindakan gila wanita dan bersyahwat besar? Na`udzubillah!! Pergunakan akal Anda wahai kaum…

Pernikahan kedelapan – Zainab binti Jahsy

Sayyidah Zainab binti Jahsy diceraikan oleh Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah merupakan anak angkat yang diangkat anak oleh Rasulullah pada masa sebelum kenabian.

Zaid bin Haritsah dinikahkan dengan kerabat Rasulullah yaitu Zainab yang merupakan keturunan bangsawan Quraisy ( Ibu Zainab adalah sepupu nabi atau cucu Abdul Mutholib)

Pada masa itu nasab (keturunan) sangatlah diperhatikan masyarakat Arab. Pencapaian ketinggian derajat nasab seringkali diupayakan melalui perkawinan, maka tidak heran jika satu orang bisa memiliki istri banyak, bukan sekedar suka sama suka, tapi para istri memiliki kepentingan sendiri (atas keluarganya) untuk meningkatkan nasab mereka. Apalagi penghormatan kepada wanita pada masa itu amatlah rendah.

Fenomena tersebut tldaklah aneh saat itu, karena bangsa lain juga memiliki adat yang tidak jauh berbeda. Bahkan hingga saat ini masalah keturunan sangat diperhatikan, terlepas dari pandangan yang melatar-belakangnya: apakah karena status sosial, kekayaan, atau kebangsawanan; di kalangan muslim sebagian memandang nasab berdasarkan kesalehan beragama.

Namun setelah menikah Zaid bin Haritsah (budak yang diangkat menjadi anak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam) dengan Zainab yang merupakan nasab bangsawan Quraisy, Zaid seringkali mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam atas sikap Zainab yang tidak mengenakkan,

Hal ini dikarenakan Zainab merasa terendahkan telah dinikahi oleh seorang mantan budak (meskipun sudah diangkat menjadi anak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam ). Namun Rasulullah senantiasa menasehati Zaid untuk mempertahankan perkawinannya, karena perceraian adalah perbuatan halal yang paling dibenci Allah Subhanahu wata’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menikahkan Zaid dengan Zainab dengan maksud untuk merombak budaya atau adat yang memandang rendah seorang budak, demi tujuan pokok Beliau, yaitu menyamakan umat manusia di hadapah Allah (tauhid), namun rupanya hal itu belum mampu meruntuhkan rasa kebangsawanan Zainab hingga perkawinan tersebut gagal.

Namun demikian tanggung jawabnya Rasulullah, Beliau menghendaki beliau untuk menikahi Zainab. Lain dari pada itu bahwa pernikahan tersebut atas perintah langsung dari Allah, sebab sebelumnya setiap kali Zaid mengadu kepada Rasulullah atas sikap Zainab, Rasulullah menasehatinya agar mempertahankan perkawinannya serta takut kepada Allah. Dengan begitu, tidak hanya masalah tanggung jawab Rasulullah mengembalikan Zainab yang merasa martabatnya telah terendahkan, namun menjadi panutan hukum bahwa anak angkat tidaklah sama dengan anak kandung, maka istri yang telah diceraikannya boleh dinikahi bapak angkatnya. Namun sebaliknya wanita yang diceraikan oleh seseorang tidak boleh dikawini anaknya. [Irene Handono, op.cit.]

Pernikahan kesembilan – Juwairiyah

Menurut Ibnu Ishaq, seorang dari sejarawan awal Muslim, Pada tahun ke 6 H. terjadi peperangan antara kaum Muslim dengan kaun Yahudi Bani Mushthaliq. Akibat peperangan ini, sebagaimana hukum peperangan yang berlaku saat itu, mereka yang kalah menjadi tawanan dan budak bagi pemenang.

Diantara mereka yang tertawan adalah Juwairiyah binti al-Harits, seorang putri dari al-Harits bin Abi Dlorror pemimpin Bani Mushtholiq. Sebagai putri seorang terpandang Juwairiyah tidak rela dirinya dijadikan budak, maka ia berniat menebus kepada Tsabit bin Qois yang kebetulan saat pembagian harta rampasan mendapat dirinya.

Karena tidak memiliki harta lagi, maka ia pergi menghadap Rasulullah agar dibantu melunasi tebusan tersebut. Rasulullah yang telah mengajarkan kepada para sahabatnya agar mendidik budak dan kalau bisa memerdekakan dan menikahinya (lihat bahasan tentang perbudakan), memberikan contoh dengan memerdekakan Juwairiyah dan menawarkan pinangannya, ternyata Juwairiyah mengiyakan.

Dengan persetujuan Juwairiyah ini maka Rasulullah menikahinya, dan dengan pernikahan tersebut para sahabat mengembalikan harta rampasan perang, sekaligus memerdekakan ± 100 keluarga. Ibnu Ishaq mengomentari: “Saya tidak pernah melihat keberkahan seseorang atas kaumnya melebihi Juwairiyah”. [Ibid]

Pernikahan kesepuluh – Shofiyah

Pada tahun ketujuh H, terjadi perang Khaibar. Pada saat penyerbuan ke benteng al-Qomush milik bani Nadlir, pemimpin benteng ini yaitu Kinanah bin Rabi’ suami Shofiyah binti Hay terbunuh. Dan istrinya juga istri-istri bani Nadlir yang lain menjadi tawanan. Dan seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah terhadap bani Mushtholiq, maka Rasulullah menikahi Shofiyah. Menurut keterangan Shofiyah sendiri, yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq bahwa sebelum kejadian ini ia telah bermimpi melihat bulan jatuh di kamarnya.

Ketika mimpi tersebut diceritakan kepada suaminya, ia malah mendapat tamparan dan dampratan, “Itu berarti engkau menginginkan raja Hijaz Muhammad”, kata suaminya. Tentang apakah harta dikembalikan dan tawanan dibebaskan dengan perkawinan ini, tidak kami dapatkan keterangan yang jelas, namun diceritakan bahwa mahar perkawinan tersebut adalah pembebasan Shofiyyah. Walaupun masih muda, usia 17 th, tapi sebelumnya Shofiyah telah menikah dua kali, dengan Salam bin Misykarn kemudian dengan Kinanah bin Rabi ‘[ibid].

Dari dua perkawinan di atas, dapat kita lihat bahwa upaya pembebasan perbudakan -akibat peperangan- lebih menonjol ketimbang masalah lainnya. Di sisi lain dua pernikahan ini semakin mengokohkan kedudukan Muslim dalam rangka pembentukan komunitas bersama yang tidak saling bermusuhan. Selanjutnya, bahwa melihat usia Shofiyah yang masih 17 th. dan sudah menikah dua kali, setidaknya menunjukkan bahwa selain masyarakat Arab, komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar juga memiliki adat mengawinkan seorang wanita sejak masih dini. [ibid].

Pernikahan kesebelas – Maria binti Syam’un

Pada tahun ketujuh Hijriah ini juga, utusan Rasulullah ke Iskandariah-Mesir telah datang dengan membawa hadiah dua orang budak dari Mesir, yang pertama bernama Maria binti Syam’un dan Sirin. Yang pertama dinikahi oleh Rasulullah dan yang kedua diberikan kepada Hassan bin Tsabit.

Seperti yang telah kita bahas sebelum ini, bahwa Rasulullah yang mengajarkan agar para budak dididik kemudian dibebaskan dan dinikahi, dicontohkan sekali lagi oleh Rasulullah. Maria alQibthiah yang menjadi budak di Iskandariah, kini menjadi istri seorang pemimpin besar di tanah Hijaz. Ia bahkan telah memberikan keturunan yang diberi nama Rasulullah seperti nama kakeknya “Ibrahim”, walaupun tidak berusia panjang. Rasulullah menyatakan : “Ia telah dimerdekakan oleh anaknya” [ibid].

Pernikahan keduabelas – Maimunah

Para istri nabi -termasuk yang sebelumnya menjadi budak-, mendapat penghormatan yang tinggi dikalangan para sahabat dan umat Muslim, maka tidak mengherankan jika banyak wanita yang ingin dinikahi oleh nabi. Salah satu dari mereka adalah Maimunah yang dalam al-Qur’an disebut “Seorang wanita mu’min yang menyerahkan dirinya kepada nabi”. Penawaran itu dilakukan oleh Maimunah melalui saudaranya Ummul Fadl, kemudian Ummul Fadl menyerahkan masalah ini kepada suaminya yaitu Abbas bin Abdil Muththolib (paman nabi). Maka `Abbas menikahkan Maimunah kepada Rasulullah dan memberikan mahar kepada Maimunah atas nama Nabi sebesar 400 dirham.

Pernikahan ini terjadi pada akhir tahun ke 7 H. tepatnya pada bulan Dzul-Qo’dah. Selain Maimunah masih banyak wanita lain yang ingin dinikahi oleh Nabi, tapi beliau menolak. Jika dilihat dari seluruh pernikahan nabi seperti yang telah kita bahas, maka penolakan nabi tersebut agaknya lebih dilandaskan pada sisi kemanfaatan dan kemaslahatan, baik bagi umat maupun bagi wanita itu sendiri. Hal ini sekaligus menampik tuduhan bahwa perkawinan Rasulullah dilandaskan pada kepentingan pemuasan seksual. [ibid].

Fahamkah kaum penghujat tersebut dengan sejarah Nabi ini?!! Ataukah mereka hanya mengandalkan subyektivitas yang berangkat dari hasad, dengki dan kebodohan belaka?!! Fa’tabiru Ya Ulil Albaab.

 

Beberapa Hikmah di Balik Syariat Poligami

1. Rata-Rata Jangka Hidup Kaum Wanita Lebih Tinggi Dibandingkan Pria

Islamic Research Foundation (Yayasan Riset Islami) yang diketuai oleh DR. Zakir Naik, seorang ilmuwan Islam jenius, menyebutkan bahwa rata-rata jangka hidup kaum wanita lebih tinggi dibandingkan pria. Secara alami, pria dan wanita kurang lebih memiliki rasio kelahiran yang sama, namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan lebih memiliki imunitas (kekebalan tubuh) yang lebih dibandingkan anak laki-laki. Anak wanita, dilaporkan, lebih mampu melawan germs (sel bakteri atau patogen lainnya) dan penyakit dibandingkan anak laki-laki, sehingga selama fase pediatric (anak-anak) angka kematian pada anak laki-laki lebih besar dibandingkan kematian pada anak perempuan.

Tinjauan berikutnya, selama perang, pria lebih banyak terbunuh dibandingkan wanita, karena yang lebih banyak turun ke medan perang adalah pria dibandingkan wanita, sehingga jumlah janda meningkat dan angka populasi wanita menjadi lebih besar dibandingkan dengan pria. Pria juga lebih banyak mengalami kecelakaan dan mati dibandingkan wanita, baik kecelakaan di jalan raya maupun kecelakaan kerja. Pekerjaan pria lebih banyak beresiko, dimana pria banyak bekerja di kontraktor gedung, menghandle mesin-mesin pabrik dan selainnya yang resiko kematiannya lebih besar dibandingkan pekerjaan wanita. Secara umum, jangka hidup wanita lebih tinggi dibandingkan pria, sehingga beberapa sensus menunjukkan bahwa jumlah populasi wanita lebih besar dibandingkan jumlah populasi pria.

2. Populasi Wanita Di Dunia Lebih Banyak Dibandingkan Pria

Masih dalam laporan yang sama oleh IRF, dilaporkan di Amerika Serikat (berikutnya disebut AS), wanita lebih banyak sekitar 7,8 juta orang dibandingkan pria. New York sendiri, memiliki wanita lebih dari 1 juta orang dibandingkan pria. Inggris Raya memiliki 4 juta wanita lebih banyak dibandingkan pria, sedangkan Jerman memiliki 5 juta lebih banyak dan Rusia 9 juta lebih. Dan hanya Alloh-lah yang lebih mengetahui berapa puluh atau ratus juta wanita di dunia ini lebih banyak daripada pria

3. Lalu Kenapa Jika Wanita Lebih Banyak Daripada Pria?

Ini mungkin pertanyaan yang akan muncul, yaitu :

Kenapa jika wanita lebih banyak dari pria? Apakah ini menjadi alasan legal dibolehkannya poligami?

Jawaban : Ini sebagian alasan bahwa poligami itu adalah suatu hal yang practicable (dapat diterapkan).

Sekarang mari kita telaah… Apabila jumlah wanita lebih banyak daripada pria, sedangkan Alloh menciptakan makhluk-Nya dalam keadaan berpasang-pasangan dan Alloh mensyariatkan atas mereka untuk menikah dan hidup bersama di bawah ikatan yang legal dan terhormat. Maka tentu saja poligami itu aplicable.

Kita ambil contoh misalnya negara AS, di negara ini wanita lebih banyak sekitar 7,8 juta sedangkan di New York sendiri kaum wanita lebih banyak lebih dari 1 juta orang. Data IRF juga menyatakan bahwa sepertiga pria di New York adalah kaum Sodomi dan Gay, yang tidak berkeinginan untuk menikah dengan wanita. AS sendiri secara keseluruhan memiliki kurang lebih 25 juta kaum gay.

Bahkan seandainya setiap pria di AS menikahi seorang wanita, maka tetap masih ada lebih dari 20 juta wanita di AS yang tidak bakal mendapatkan suami. Lantas siapakah yang akan menikahi mereka? Apakah mereka lebih memilih hidup melajang atau lesbi seks yang menjijikkan?

Ataukah menjadi properti publik (barang dagangan umum)? Ini tentunya lebih hina daripada menjadi isteri sah seorang pria yang telah menikah.

Anggaplah misalnya saudara perempuan anda adalah salah satu wanita yang tidak menikah tinggal di AS karena tidak mendapatkan pria lajang yang bisa menikahinya. Hanya ada dua pilihan baginya dan tidak ada ketiga, yaitu ia menikahi seorang pria yang telah beristri atau ia menjadi properti publik dengan hidup melajang. Tentu saja bagi orang yang memiliki akal sehat, menjadi isteri pria yang telah menikah adalah pilihan yang lebih baik, karena selain ia memiliki hak-hak legal sebagai isteri, ia juga mendapatkan hak perlindungan dan nafaqoh (nafkah).

4. Kaum Liberalis/Feminis : Kenapa Hanya Poligami Yang Diperbolehkan Bukan Poliandri?

Berdasarkan Syariah Islam

Sebagian kaum memprotes, kenapa seorang pria diperbolehkan beristeri lebih dari satu (poligami) namun melarang wanita bersuami lebih dari satu (poliandri)? Jawab : Sebelumnya, izinkan penulis sekali lagi menekankan dan menjelaskan, bahwa Islam itu adalah agama yang adil dan landasan bagi masyarakat Islam itu adalah keadilan dan kesetaraan. Alloh menciptakan pria dan wanita itu sama (equal) namun dengan beberapa perbedaan kemampuan dan perbedaan tanggung jawab. Pria dan wanita berbeda secara psikologi dan fisiologi, peran dan tanggung jawab mereka juga berbeda. Wanita dan pria di dalam Islam itu sama namun tidak identik. Insya Alloh penulis akan menurunkan tulisan khusus tentang hal ini.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surat an-Nisaa’ ayat 24 :

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُم مَّا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَن تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُم مُّحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُم بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُم بِهِ مِن بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Yang Artinya :

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa : 24)

Berdasarkan “Logis”

Apabila mereka menuntut alasan logis tentang hal ini, maka dengan logika dan akal sehat, secara fisiologi dan psikologi, wanita tidak dilegalkan melakukan poliandri. Berikut ini adalah sekelumit alasan tersebut :

  1. Berdasarkan morfologi dan fisiologi, wanita secara alamiah adalah resipient (penerima) sedangkan pria adalah donor (pemberi). Resipient maksudnya adalah penerima sel spermatozoa sedangkan donor maksudnya pemberi sel spermatozoa. Secara logika sederhana, penerima itu lebih terbatas dan terspesifikasi daripada pendonor.
  2. Wanita memiliki virginity (keperawanan) yang jelas berupa selaput pembuluh darah sedangkan pria tidak. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan pada pria yang menikahinya.
  3. Dalam satu siklus, wanita hanya mampu mengeluarkan satu sel telur –atau beberapa sel telur- sedangkan pria mampu menghasilkan berjuta-juta sel spermatozoa dan dapat berlangsung secara berulang-ulang. Secara alamiah, ini menunjukkan bahwa pria lebih poligamis dibandingkan wanita.
  4. Apabila terjadi fertilization (pembuahan) dan terbentuk foetice (fetus/janin) hingga akhirnya menjadi infant (bayi), identifikasi ayah kandung bagi bayi tersebut susah diketahui kecuali menggunakan tes DNA yang rumit, butuh waktu lama dan mengeluarkan banyak biaya. Sedangkan seorang lelaki yang berpoligami, apabila isteri-isterinya melahirkan maka dengan mudah dapat diketahui siapa ayah dari bayi-bayi tersebut.
  5. Ahli psikologi menyatakan bahwa anak yang tidak mengetahui orang tuanya terutama ayahnya, cenderung mengalami gangguan mental (mental disturbance) dan trauma masa kecil (traumatic childhood). Islam juga sangat mementingkan nasab yang kembalinya kepada seorang ayah, apabila tidak diketahui ayahnya, maka penasabannya juga akan sulit, dan implikasinya kepada hukum waris dan semisalnya.
  6. Wanita memiliki perubahan-perubahan fisiologi yang lebih drastis dibandingkan pria, terutama pada fase siklus mentsruasi, pregnancy (mengandung) dan nifas (mengeluarkan darah melahirkan) selama kurang lebih 40 hari. Selama fase ini, organ seksual wanita sangat rentan dan riskan, sedangkan pria tidak mengalami hal ini.
  7. Perubahan psikologi wanita akibat siklus alamiahnya secara drastis. Ahli psikologi dan psikiatri melaporkan bahwa wanita lebih cenderung mengalami perubahan psikologi dan mengalami sindrom seperti pre mentsrual syndrome, pregnancy, pra & post natal depression. Semua gangguan ini menyebabkan kelabilan emosi, kerentanan penyakit dan gangguan mental. Hal-hal ini menyebabkan wanita kurang dapat memenuhi tugasnya sebagai isteri.
  8. Wanita memiliki fase menopause sedangkan pria tidak.
  9. Wanita yang memiliki beberapa orang suami dan melakukan hubungan seksual dengan semua suaminya pada hari yang sama memiliki kecenderungan penyakit seksual atau gangguan organ seksual daripada pria yang memiliki banyak isteri.
Dan masih ada lagi alasan-alasanya lainnya, dan alasan-alasan di atas adalah alasan ilmiah dan alamiah yang dapat diidentifikasi dengan mudah. Alhasil, secara fisiologis dan psikologis, pria secara alamiah lebih poligamis dibandingkan wanita.

 

Pendapat Para Tokoh Terkemuka

Phillip Killbride, seorang Profesor Antropologi pada Bryn Mawr College Pennsylvania menulis sebuah buku yang berisi studi tentang poligami yang berjudul ”Plural Marriage for Our Times – Reinvented Options” (Westport, Connecticut: Bergin and Garvey: 1994).

Ia melakukan sebuah studi mendalam tentang poligami dan dipaparkannya dalam seribuan halaman bukunya ini dimana Professor Killbride menunjukkan beserta bukti dan contoh-contohnya bahwa poligami di zaman ini memiliki benefit (keuntungan) yang positif.

Audrey Chapman, seorang family therapist and relationship expert (ahli terapi masalah keluarga dan hubungan), menulis buku “Man Sharing : Dilemma or Choice” (New York: William Morrow and Co.: 1986)

Menunjukkan perbandingan baik buruknya poligami, yang akhirnya dia menunjukkan bahwa poligami adalah opsi terbaik di dalam menanggulangi masalah-masalah percintaan, keluarga dan moralitas.

Adriana Blake, menulis buku ”Women Can Win The Marriage Lottery : Share Your Man With Another Wife – The Case For Plural Marriage” (Orange County University Press, 1996),

Seorang aktivis pembela hak-hak wanita dan mantan pengacara, merekomenasikan bahwa poligami adalah opsi terbaik di dalam meninggalkan kelajangan dan memperoleh hak-hak hidup yang legal dan terhormat di saat penipuan, kejahatan seksual dan degradasi moral terjadi.

Annie Besant, seorang pemikir dan ahli teologi terkenal,

Nama beliau tidak asing bagi kalangan feminis dan liberalis atau pemerhati buku, dimana tidak sedikit karya tulisnya berjejer di rak-rak buku Islami, ia mengatakan :

You Can Find others stating that religion (Islam) is evil, because it sanctions a limited poligamy. But you don‟t hear as a rule the criticism which I spoke out one day in a london hall where I knew that the audience was entirely uninstructed. I pointed out to them that monogamy with a blended mass of prostitution was hypocrisy and more degrading than a limited poligamy. Naturally a statement like that gives offence, but it has to be made, because it must be remembered that the law of Islam in relation to women was untill lately, when parts of it has been imitated in England, the most just law as far as women are concerned, to be found in the world. Dealing with property, dealing with rights of succession and so on, dealing with cases of divorce, it was far beyond the law of the West, in the respect that was paid to the rights of women. Those things are forgotten while people are hypnotized by the words monogamy and poligamy and do not look at what lies behind it in the West – the frightful degradation of women who are thrown into the streets when their first potectors, weary of them, no longer give them any assistance… I often think that woman is more free in Islam than in Christianity. Woman is more protected by Islam than by the faith which preaches monogamy. In the Qur‟an the law about woman is more and liberal. It is only in the last twenty years that christian England, has recognised the rigt of a woman to property, while Islam has allowed this rigth from all times…”

“Anda dapat menemukan orang-orang lain menyatakan bahwa agama (Islam) ini buruk, karena memperbolehkan poligami yang terbatas. Tapi Anda tidak mendengar lazimnya kecaman yang saya lontarkan pada suatu hari di “London Hall” (Balai Pertemuan London) dimana saya telah mengetahui bahwa para hadirin ketika itu sama sekali tidak terkendali. Aku tunjukkan pada mereka bahwa monogami yang disertai dengan campuran unsur prostitusi di dalamnya adalah suatu kemunafikan dan lebih hina dibandingkan dengan poligami terbatas. Secara alami, pernyataan seperti itu akan mendapatkan penentangan, namun hal ini mau tidak mau harus dinyatakan, karena haruslah diingat bahwa hukum Islam yang berkaitan dengan wanita hingga sampai saat ini, ketika beberapa bagian dari hukum itu ditiru di Inggris, adalah hukum yang paling adil, sejauh mana (hak-hak) wanita (juga) dipedulikan, (yang) dapat ditemukan di dunia, baik yang berkaitan dengan properti (barang/hak milik), berkaitan dengan hak warisan atau selainnya, atau berkaitan dengan perceraian, dan ini semua berada jauh sebelum hukum Barat memberikan respek dan mengatur hak-hak wanita. Semuanya ini dilupakan ketika mereka terhipnotis dengan kata-kata monogami dan poligami dan tidak melihat apa yang berada di belakangnya di dunia Barat – (ketika) perendahan wanita secara mengerikan yang dibuang di jalanan, dimana pelindung pertama mereka bosan terhadap mereka dan tidak dapat lagi memberikan pertolongan bagi mereka… Saya sering berfikir bahwa wanita lebih bebas di dalam Islam daripada di kristiani. Wanita lebih dilindungi oleh Islam daripada keyakinan yang memuji monogami. Di dalam al-Qur‟an, hukum tentang wanita itu lebih adil dan liberal. Hanya baru pada abad dua puluh ini negeri Inggris yang kristiani, mengenal hak-hak wanita tentang properti (kepemilikan) sedangkan Islam memperbolehkan hak (kepemilikan) ini pada semua waktu…” [Annie Besant, The Life and Teachings of Muhammad (Madras:1932), hal. 25-26].

Elizabeth Joseph, seorang pengacara dan jurnalis dari Big Water – Utah, yang memberikan ceramah di National Organization for Women Conference (Konferensi Organisasi Nasional Bagi Wanita) yang berjudul : “Creating Dialogue : Women Talking to Women” pada bulan Mei tahun 1997.

Ia memberikan pendapat positif tentang poligami. Ia mengatakan bahwa salah satu pahlawan wanitanya, yaitu Dr. Martha Hughes Cannon yang menjadi wanita pertama anggota dewan legislatif pada tahun 1896, bahwa Dr. Martha ini bukan hanya seorang dokter namun ia juga seorang isteri yang dipoligami. Elizabeth juga berkata :

As a Journalist, I work many unpredictable hours in fast-paced environtments. The news determined my schedule. But am I calling home, asking my husband to please pick up the kids and pop something in the microwave and get them to bed on time just in case I‟m really late? Because of my plural marriage arrangement, I don‟t have to worry… it‟s helpful to think of Polygamy in terms of a free market approach to marriage. Why shouldn‟t you or your daughters have the oppurtinity to marry the best man available, regardless of his marital status?

“Sebagai seorang jurnalis, aku seringkali bekerja dalam waktu yang tidak dapat diprediksikan di dunia yang serba cepat ini. Beritalah yang menentukan jadwalku. Tapi, apakah aku pernah menelpon rumah, meminta suamiku untuk menjemput anak-anak dan memasak sesuatu di microwave dan menidurkan mereka pada waktunya, khawatir kalau-kalau aku nanti benar-benar terlambat? Karena rencana perkawinan poligami-ku-lah aku tidak perlu khawatir… sangatlah membantu untuk berfikir tentang poligami dalam bentuk pendekatan pasar bebas di dalam menikah. Kenapa anda atau saudara perempuan anda tidak mencoba menikahi pria terbaik yang pernah ada, tanpa mempedulikan status perkawinannya?”

DR. Muhammad Fu’ad al-Hasyimi, mantan pemeluk kristiani yang akhirnya masuk Islam, di dalam bukunya ”Religions on The Scales” (hal. 109) berkata:

the Church as having recognized polygamy up to the 17th century. None of the four gospels is known to have explicitly barred polygamy. It so happened that some European peoples, dictated only by non-polygamy pagan traditions, barred the practice of keeping more than one wife. When that anti-polygamy minority converted to Christianity, it clamped the traditional polygamy ban down on the rest of Christians. As time passed by, Christianity was increasingly, falsely though, believed to have essentially barred polygamy. It is only an old tradition clamped by some down on the others throughout ages.

“Gereja telah mengenal praktek poligami sampai abad ke-17. Tidak ada satupun dari injil yang empat diketahui adanya larangan yang secara jelas melarang poligami. Perubahan terjadi ketika orang-orang Eropa yang bertaklid kepada tradisi non poligami kaum paganis (hanya beberapa kalangan saja yang diketahui melarang poligami, karena mayoritas masyarakat Eropa –sebagaimana disebutkan sebelumnya- mempraktekan poligami secara luas, pen). Ketika kaum minoritas anti poligami itu masuk agama kristen, tradisi mereka menggeser tradisi poligami dan mereka memaksakan (tradisi ini) bagi penganut kristen lainnya. Seiring berlalunya waktu, kaum kristiani mengira bahwa larangan poligami itu merupakan esensi ajaran kristen, padahal hal ini berangkat dari sikap taklid kepada para pendahulu mereka, yang sebagian orang (non poligamis) memaksakannya kepada lainnya (tradisinya) dan akhirnya terus berlangsung selama bertahun-tahun…” [M.F. Al-Hasyimi, Religions on The Scales hal. 109]

Hj Irena Handono, mantan biarawati Seminari Agung & Mantan Ketua Legio Maria terbesar di Indonesia

Dalam pembentukan komunitas baru yang menjadikan keluarga dan perkawinan sebagai salah satu instrumennya, maka perhatian terhadap janda dan anak-anak yang ditinggal ayah mereka yang syahid akibat peperangan adalah suatu yang sudah semestinya, apalagi kesempatan mendapatkan kebutuhan sehari-hari di tanah yang gersang tidaklah semudah yang dibayangkan, tidak heran jika ada yang menjual manusia dipasar budak demi mencukupi kehidupan sehari-hari. Langkah Rasulullah yang juga diikuti para sahabatnya untuk memperhatikan para janda dan anak-anaknya, tampak dalam beberapa perkawinan yang kita sebutkan di atas. [Irene Handono, op.cit]

-Wallahu’alam Bishawab-

Sumber :

  • Poligami Dihujat : Jawaban Rasional Bagi Para Penghujat Syariat dan Sunnah Poligami, Oleh Abu Salma al-Atsari. Publikasi : 1428, Robi’ats-Tsani 13/2007, 1 Mei
  • Pengamatan dan pengamatan penulis (admin) terhadap kehidupan sosial dan agamis

Tagged: , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: